Kamis, 06 Desember 2012

Resensi Novel Dia Tanpa Aku



1.    Identitas Novel
Judul                    : Dia Tanpa Aku
Pengarang             : Esti Kinasih
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit        : Januari 2008
Kota terbit           : Jakarta
Jumlah Halaman   : 280 halaman
Cetakan ke          : Kedua, Februari 2008
Tebal buku           : 20cm

2.    Kepengarangan
Tentang penulis :
          Esti Kinasih lahir di Jakarta, 9 September 1971, yaitu anak sulung dari 3 bersaudara. Cewek Virgo ini punya hobi menulis, jalan-jalan, naik gunung, mengoleksi baju kaos bergambar Jeep dan mengoleksi prangko.
Dia, Tanpa Aku adalah novel keempat Esti, setelah Fairish (2004) yaqng menjadi novel teenlit yang paling banyak di baca dan oplahnya menembus angka 10.000 copy, berikutnya novel yang berjudul Cewek!!! (2005) yang juga laris manis, dan Still (2006) yang merupakan sekuel cewek. Cewek yang punya prinsip hidup easy going ini tetap terobsesi mendaki puncak Himalaya.

3.    Sinopsis
Ronald, cowok kelas 2 SMA, sudah lama naksir Citra yang masih kelas 3 SMP. Tapi Ronald belum mau PDKT. Ia mau menunggu Citra masuk SMA, maka dari itu sepulang sekolah Ia selalu mengajak sahabatnya, Andika ke sekolah Citra untuk mengamati Citra dari kejauhan. Segala informasi-informasi seputar Citra seperti hobi, cita-cita dan bahkan foto tersimpan di buku catatannya. Setiap hari Ronald selalu membaca catatannya hingga Andika pun bosan mendengarnya.
Suatu hari Ronald mengajak Andika karena rasa penasaran Andika dengan gebetan sahabatnya itu. Sepulang sekolah Ronald dan Andika bergegas ke sekolah citra untuk menyaksikan Citra keluar dari gerbang sekolahnya. Citra pun keluar dari gerbang sekolahnya dengan rambut yang di ikat ekor kuda dengan ikatan yang acak-acakan, tapi Ronald menyukainya. Keisengan Citra lah yang mempertemukannya dengan Ronald, tapi hanya sebatas pertemuan dan Citra tidak sempat tau nama Ronald, karena waktunya berdesakan sebelum akhirnya Ia di tangkap temannya. Tapi Ronald sangat senang karena diberi waktu untuk menolongnya dari keisengannya.
Waktunya menyambut Citra di SMA untuk mengungkapkan isi hatinya telah di persiapkannya dengan menabung uang untuk membeli baju dan sepatu khusus yang akan di persembahkannya untuk Citra, bahkan Ia rela membawa lontong dan bakwan udang ke sekolah untuk di jual kepada teman-temannya. Ia tak pernah merasa malu dengan tas di pinggang sambil berpromosi. Semua ini dilakukannya hanya untuk Citra. Hanya untuk nya. Ia tak mau hanya karena penampilannya nanti akan menghancurkan harapannya yang telah di pupuknya selama berbulan-bulan. Ronald pun selalu meminta sahabatnya itu membayar makan siangnya. Pokoknya Ronald hanya bisa membayar ongkos bus ke sekolah, selebihnya ngutang deh. Biarpun begitu, Andika selalu berbaik hati menolong Ronald, walaupun uang bulanannya selalu habis sebelum tanggalnya.
Saat yang di tunggu Ronald selama berbulan-bulan akhirnya tiba. Citra masuk SMA. Namun Ronald kecewa karena ternyata Citra masuk ke SMA yang sama dengan adiknya, Reinald dan sekelas pula. Ronald pun selalu menjaga gerak-gerik adiknya agar adiknya tak menyukai gebetannya itu. Hingga akhirnya Ronald berpesan pada Reinald untuk selalu membebaskan Citra dari segala hukuman dan keisengan teman-temannya, pokoknya secara tidak langsung Ronald memperlakukan adiknya sebagai Bodyguard Citra, dan adiknya agak sedikit protes melihat perlakuan abangnya itu.
Suatu hari Ronald memutuskan untuk menemui Citra alasannya karena Ia takut keburu direbut orang. Di rumah Ia mempersiapkan ancang-ancang untuk kerumah Citra di temani oleh sahabatnya dan adiknya. Penampilannya di sertai balutan kaos dan jins biru tentu saja PERFECT di mata para cewek yang melihatnya. Ronald tersenyum puas saat melihat penampilannya, ternyata tidak sia-sia Ia menabung hanya untuk kelihatan perfect di mata Citra. Namun keinginan dan harapan Ronald untuk menemui Citra tidak terwujud. Di temani Andika, Ronald pergi ke rumah Citra. Tepat di depan gang rumah Citra, Andika menyerahkan buket bunga yang masih mekar. Usai itu Ronald berbalik dan semuanya seakan menjadi hitam, kelam dan tenggelam. Ronald tewas ketika mobil sedan dengan kecapatan maksimum datang dari arah yang tak di duga. Buket bunga itu tercampak dan hanya mawar putih yang tergenggam di tangan Ronald. Sesaat sebelum tubuh Ronald menghantam kerasnya aspal jalan, Andika menangkap tubuh sahabatnya dan memeluknya sekuat-kuatnya. Namun sekuat apapun pelukannya, takkan pernah menghalangi kematian sahabatnya itu.
Sejak kematian Ronald, Andika sangat terpukul. Semua lelucon,cerita, tawa menjadi hilang terbawa angin. Andika seperti orang yang baru saja kehilangan separuh dari tubuhnya. Bahkan guru lebih sering mendapatinya dalam keadaan melamun dan menangis. Begitu juga Reinald, adik Andika. Kematian Ronald diumumkan pihak sekolah Reinald melalui pengeras suara. Namun karena baru satu hari di sekolahnya yang baru, maka hanya segelintir orang yang datang untuk melayat. Citra adalah salah satu orang yang tidak ikutan melayat. Sempat timbul kebencian di hati Reinald pada Citra. Reinald selalu menganggap kalau Citra lah yang membunuh abangnya. Namun Andika selalu menyadarkannya dari anggapannya itu.
Dua hari kemudian, Reinald masuk sekolah dengan mata yang masih bengkak. Satu persatu temannya datang untuk mengucapkan belasungkawa termasuk Citra. Kebencian Reinald mulai membara ketika Citra berdiri di hadapannya, tetapi sebelum Citra berbicara. Ia mengajak Citra untuk datang kerumahnya. Dengan perasaan berat, Citra menerima ajakannya. Di rumah Reinald mengingatkan Citra kembali pada Ronald dengan menyerahkan foto Ronald, karena sebelumnya Ronald pernah menolong Citra karena keisengannya. Namun Citra sedikit pun tidak mengingat wajah itu. Sebelum Citra pulang, Reinald memberi buket bunga yang sudah layu dan rusak. Citra kembali bingung, lalu Reinald lansung menggandeng tangan cewek itu untuk mengantarnya pulang.
Malamnya Reinald menelepon Andika untuk memberi tau mengenai Citra yang sama sekali tidak ingat dengan Ronald. Awalnya emosi Reinald masih normal, tapi karena mengingat Citra yang sama sekali tidak mengetahui wajah itu, Reinald menjadi drop dan emosional. Telepon itu dimatikannya dan Ia bergegas ke kamar abangnya. Dipandangnya secarik kertas yang berisi semua tentang citra. Mulai dari tempat tanggal lahir, golongan darah, alamat rumah, hobi, warna favorit, makanan dan minuman favorit, lagu, grup band favorit sampai binatang peliharaan favorit terangkum rapi di kertas itu. Berikut data-data Citra yang lebih spesifik lagi. Namun beberapa saat kemudian, suasana kamar itu seperti kelam disertai aliran air mata Reinald.
Esoknya Ia melihat Citra duduk bersama Roni sementara Ia duduk bersama Loni. Reinald langsung menghampiri Roni untuk meminta agar Ia pindah ke bangkunya dan Reinald duduk bersama Citra. Ini dilakukannya karena sesuai permintaan abangnya untuk menjaga Citra selalu.
Hari demi hari di lewati Citra di temani Reinald. Tidak pernah sedikit pun Citra lepas dari pengetahuaanya. Andika selalu menjemput Citra saat akan pergi kesekolah, ke kantin selalu bersama bahkan ke toilet. Kadang-kadang temen mereka juga bingung melihat sikap Reinald bahkan ada yang mengira mereka pacaran. Sebab Citra selalu di perhatikan Reinald, selalu di sms atau di telepon setiap jam. Kadang-kadang Citra bosan dan ingin memberontak, tetapi Reinald tak merespon itu.
Suatu hari Citra lupa membawa buku cetak Pendidikan Kewarganegaraan. Citra langsung panik. Keringat dingin mulai mengucuri tubuhnya. Bu Emi terkenal dengan antipati dan kemarahannya kalau ada murid yang tidak membawa buku cetak sewaktu pelajarannya. Ia tidak peduli apapun alasannya. Bell masuk berbunyi di susul masuknya Bu Emi ke kelas. Reinald menyodorkan buku cetaknya pada Citra. Sambil memikirkan alasan, Reinald mencoba mencari akal untuk terbebas dari hukuman. Namun semuanya berhenti ketika Bu Emi melirik Reinald dengan satu buku catatan dan pulpen. Reinald tertatih kedepan kelas dan bersiap menerima segala hukuman. Dengan nada keras Bu Emi mengusir Reinald ke luar kelas. Melihat itu, Citra merasa bersalah. Disusul dengan perasaan tak berdosa, Reinald berjalan ke luar kelas. Usai pelajaran itu, Citra menemui Reinald yang sedang bersantai di balkon kelas. Tapi Citra tidak menemukan kesedihan Reinald karena di usir oleh Bu Emi. Jadi Ia membatalkan permintaan maafnya.
Kejadian sama kembali dialami Reinald. Kali ini Ia yang lupa membawa buku cetak Pendidikan Kewarganegaraan bahkan disertai dengan buku catatan dan buku PR. Citra mengusulkan agar Reinald mengaku pada Bu Emi. Reinald langsung membantah. Akhirnya Reinald dipanggil kedepan kelas. Bu Emi tidak lupa bahwa murid yang di hadapinya adalah murid yang sama dengan alasan tidak membawa buku cetak beberapa waktu lalu. Kemarahan Bu Emi tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Dengan satu kalimat yang berisi bahwa Reinald dibebaskan sewaktu pelajarannya selama sebulan. Kalimat singkat itu terdengar buruk di mata Citra dan teman-temannya tetapi tidak dengan Reinald. Ia merasa hidupnya indah tanpa pelajaran itu.
Hari-hari dihadapi Citra dengan senyuman di temani Reinald. Kini Ia tidak takut keisengannya membuat Ia sial. Karena ada Reinald yang selalu berada di sampingnya. Namun bayang-bayang Ronald terus mendatangi Reinald. Ia tak kuat dan tak mampu mengingat peristiwa itu apalagi Citra penyebab utama kematian abangnya. Kadang ada persaan Reinald untuk tidak dekat pada Citra. Tetapi bayang-bayang untuk kemudian hilang dan digantikan dengan pesan Ronald padanya untuk selalu menjaga Citra. Kedua perasaan yang saling berlawanan itu terus menghantuinya. Ia sering kalut dan gelisah memikirkannya tetapi tak pernah ada jalan untuk Ia bisa keluar dari perasaan itu.
Akhirnya Ia memutuskan agar tidak dekat pada Citra. Mulai dari berangkat sekolah, ke kantin, duduk dan aktivitas lain yang biasa mereka lakukan bersama kini tidak lagi berjalan dengan kebersamaan. Reinald selalu mencari alasan agar Ia tidak dekat dengan citra. Hingga Citra merasa bingung dan kesepian. Suasana kelas yang dulu ramai dan penuh dengan tawa, tepuk tangan, senyuman kini terpecah menjadi kesendirian. Teman-temannya juga memperhatikan perubahan Reinald yang besar itu pada Citra. Kadang mereka bertanya pada Reinald atau Citra, namun tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Citra pun tidak berani menunjukkan keisengannya lagi. Karena Ia tau, penyelamatnya kini sudah berubah menjadi seseorang yang asing. Sangat asing.
Kesendirian itu tidak berlansung lama saat Reinald menyadari bahwa bukan Citra penyebab kematian abangnya. Suasana yang dulu sempat dirindukan Citra kini kembali terwujud. Suasana yang ceria bersama Reinald. Hingga pada suatu saat, Reinald mengajak Citra ke rumahnya untuk belajar bahasa inggris karena ada ulangan selain itu juda Reinald tau kalau bahasa inggrisnya citra itu parah banget. Citra datang ke rumah Reinald sambil menggenggam buku bahasa inggris. Ternyata bukan Cuma mereka berdua di rumah melainkan ada Andika juga. Citra dan Andika berjalan ke arah kamar Reinald disusul dengan Reinald yang membawa nampan dengan gelas berisi lemon tea. Dengan posisi duduk bersila menghadap meja belajar yang rendah dengan membuka buku bahasa inggris yang sudah terbuka. Tapi sebelumnya Citra menyuruh Reinald menyetel radio. Dengan malas Reinald meminjam radio ke kamar Bi Minah, pembantunya.
Sekembalinya Reinald, Citra masih dalam posisi bersantai tanpa menoleh sedikit pun ke buku. Reinald mulai memutar-mutar turning. Tiba-tiba gerakan tangannya berhenti. Samar-samar di dengarnya lagu Gleen-Dewi yaitu lagu kesukaan abangnya. Di besarkannya volume radio itu walaupun Citra mengeluh dan ingin menukarnya. Namun Reinald tak meresponnya. Ketika lagu itu berakhir, suara sang penyiar cewek lansung membuka pembicaraan. Ia memberi tau bahwa ada tamu di studionya yang di undang atas permintaan pendengar. Dan selama setengah jam kedepan, tamu itu akan menceritakan tentang kisah pahitnya. Mendengar itu, Reinald seperti dihantam dengan keras dan Ia tersentak sesaat tubuhnya diam menegang. Apalagi ketika sang tamu mulai mengeluarkan kata demi kata. Suara itu seperti tidak asing di telinga Reinald. Suara itu persis dengan suara almarhum abangnya. Suara itu membekukan aliran darah Reinald dan Andika. Merenggut setengah kesadaran mereka. Namun mereka tau kalau orang yang sudah meninggal itu tidak mungkin hadir kembali ke dunia. Tetapi kini yang sedang berada di studio adalah seseorang yang persis dengan almarhum abangnya. Sang tamu itu mulai menceritakan kisah cinta pertamanya yang tidak pernah terwujud dan juga bercerita tentang adik lelakinya. Ia memiliki gebetan bernama Devi bukan Citra. tetapi Nama lengkap Citra adalah Citra Devi. Semua yang di ucapkan sang tamu itu persis sama dengan kehidupan Ronald. Sesaat setelah cerita itu berakhir, Samar-samar terdengar lagu yang sama ketika di awal perjumpaan tadi disusul dengan suara sang penyiar yang mengatakan siapapun yang ingin berinteraksi langsung dengan sang tamu, ada satu nomor telepon yang bisa dihubungi.
Citra menekan tombol hp nya sesuai dengan nomor yang telah disebutkan. Sementara Reinald dan Andika masih pucat pasi menyaksikan hal aneh itu. Di deringan pertama, sang tamu langsung menjawab Citra. Mereka berbicara sangat akrab. Ketegangan Reinald bertambah saat Citra memberi hp nya pada Reinald dari perintah sang tamu. Awalnya Citra bingung tapi akhirnya rasa bingung itu sirna. Di telepon sang tamu berpesan agar selalu menjaga Citra dan sang tamu juga bilang bahwa Ia sayang dengn Reinald. Kata-kata itu jelas berarti bahwa tamu itu adalah Ronald, almarhum abangnya. Telepon itupun langsung terputus. Acara di rdio itu berakhir. Kembali lagu yang sama di putar. Kemudian hening. Reinald dan Andika tersadar. Keduanya mengguncang-guncang radio itu. Mereka periksa kabel. Masih bagus. Namun stasiun radio itu menghilang. Keduanya langsung teringat nomor telepon tadi. Namun hasilnya sama. Nomor tersebut belum terpasang. Seketika Reinald menangis tanpa suara. Andika duduk pucat. Sementara Citra menatap bingung keduanya.
Keesokannya Reinald mengajak Citra ke makam abangnya. Reinald menjelaskan semuanya kepada citra. Tapi Citra hanya bisa diam membungkam. Mereka hanya bisa menyampaikan doa bagi seseorang yang kini dipeluk bumi dan tidur dalam diam.

4.    Keunggulan buku
Novel ini menceritakan cerita yang menarik sangat sesuai dengan para remaja. Pengarang juga menggunakan bahasa dan kata kiasan yang bagus dan menarik, sehingga pembaca tidak merasa bosan ketika membacanya. Pengarang menghadirkan peristiwa yang tak biasa terjadi sehingga menimbulkan rasa penasaran dari pembaca. Menurut saya secara keseluruhan buku ini patut untuk dibaca.

5.    Kelemahan buku
Kehadiran Ronald setelah meninggal tidak begitu jelas, dan tidak masuk akal. Tokoh citra yang begitu kaku dan tidak tau apa-apa sehingga membuat cerita tidak nyambung. Akhir cerita dari novel juga tidak jelas, akhirnya tidak senang dan tidak sedih, membuat pembaca bingung.

6.    Kritik dan saran
Cerita esti kinasih sangat menarik menurut saya, namun seharusnya penulis membuat ending cerita lebih bagus dan menarik lagi karena akhir dari cerita ini hanya biasa saja. Padahal awal dari cerita sampai pertengahan sangat menarik perhatian pembaca, namun endingnya tidak sebagus yang dibayangkan.

7.    Kesimpulan
Novel ini adalah novel yang sangat menarik untuk dibaca apalagi bagi remaja yang sangat dekat dengan apa yang namanya cinta.
         




3 komentar:

  1. emangnya endingnya kenapa? ngegantung ya?._.

    BalasHapus
  2. Sist ada link buat download novel2 terbaru gk. Klo ada tolong kirim ke sini kumalapundarika@yahoo.co.id





    Makasih ya sist :D

    BalasHapus
  3. gue udah lengap novelnya,gue bahkan ampe nangis berkali-kali gara-gara tu novel...:'(

    BalasHapus